BERBISNIS SECARA
ISLAMI
Islam mendorong
investasi dengan berlandaskan kepada faktor-faktor yang dapat menghasilkan
kekayaan secara nyata. Sistem perpajakan Islam tidak berupa pajak penghasilan
namun berupa pajak kepemilikan (dalam hal ini zakat dan kharaj). Dengan begitu,
masyarakat memiliki pendapatan lebih banyak untuk dikeluarkan membeli barang
dan jasa, karena harta yang tersimpan akan dikenakan pajak setelah penyimpanan
berjalan dalam masa satu tahun. Dampak dari hal ini ialah peningkatan
permintaan barang dan jasa di dalam sistem ekonomi sehingga menghasilkan
peningkatan angka perdagangan dan membuahkan peningkatan laba dari bisnis.
Karena ekonomi Islam mengatur pola investasi terbuka dengan tidak adanya suku bunga, masyarakat tidak memiliki pilihan selain berinvestasi dalam bisnis yang islami –yakni perdagangan barang dan jasa. Dengan begitu, kekayaan seseorang akan terinvestasikan kembali pada kegiatan bisnis di dalam perekonomian yang akan digunakan untuk menggerakkan lahan atau tenaga kerja –menciptakan banyak lapangan kerja dalam dunia ekonomi. Situasi ini menciptakan iklim ekonomi yang dinamis yang memungkinkan terciptanya banyak lapangan kerja. Seiring dengan banyaknya lapangangan kerja yang tersedia, lebih banyak pula uang yang dikeluarkan atau diinvestasikan kembali dalam sistem ekonomi yang tentu saja kembali menciptakan lebih banyak lagi lapangan kerja.
Tidak adanya ekonomi finansial yang paralel , membuat orang hanya dapat berinvestasi dalam ekonomi riil dan ini dapat tercapai melalui dua hal :
1. Tidak adanya segala macam kebijakan yang membatasi sirkulasi kekayaan membuat konsumen memiliki lebih banyak harta untuk dikeluarkan, sehingga mendorong konsumsi nasional. kebutuhan barang dan jasa yang tinggi hinggi melampaui barang primer merupakan lahan bisnis yang besar
2. Walaupun Islam mengatur bahwa properti publik diatur oleh negara, dimana ada jenis benda tertentu yang statusnya milik negara, negara dapat meminta jasa perusahaan swasta untuk menggarap berbagai proyek guna memenuhi rantai suplai benda apapun. Ini tentu saja merupakan lahan bisnis yang baik bagi para pengusaha. Pengelolaan sumberdaya utama tetap berada di tangan pemerintah tetapi perluasannya, pengembangannya, pencariannya sera pembangunannya dapat dilaksanakan oleh perusahaan yang dibayar pemerintah berdasarkan kontrak tertentu. Ini digolongkan sebagai ijarah (penyewaan tenaga kerja)
Dalam ekonomi Islam setiap individu berhak memenuhi permintaan pada sistem ekonomi. Untuk kepentingan ini Islam telah memiliki aturan yang jelas mengatur bagaimana bentuk dari sebuah perusahaan. Perusahaan (syarikat) pada dasarnya merupakan kontrak kerjasama beberapa orang dan cara mereka menerima kompensasi atau bayaran adalah dengan membagi laba diantara mereka.
Pada dasarnya sebuah perusahaan adalah urusan kontrak dan Islam telah memiliki aturan rinci kontrak tersebut. Kontrak Islami mencakup tawaran dan penerimaan diantara para pihak yang terlibat tentang sesuatu. Misalnya tentang apa yang akan mereka jual. Karena itu, formasi sebuah perusahaan selalu terdiri atas dua pihak atau lebih. Bentuk pekerjaan yang akan mereka lakukan menjadi subyek dalam kontrak karena ini adalah alasan mengapa mereka bekerjasama. sekurangnya salah seorang dari mereka harus mampu bertindak mengatur pengeluaran atas nama perusahaan. Misalnya melakukan pembelian, mengurangi aset dan sebagainya. Karena itu perusahaan Islami terdiri atas beberapa jenis sebagai berikut :
1. Al Inan (Perusahaan Setara)
2. Al abdan (Perusahaan sesama)
3. Mudharabah (Perusahaan Modal dan Kemampuan)
4. Wujuh (perusahaan reputasi)
5. Mufawadhah (Perusahaan negosiasi)
Kapitalisme menekankan pada konsumsi barang sementara Islam menekankan pada pengeluaran untuk usaha. Imam Nawawi meriwayatkan dalam kumpulan hadist qudsinya bahwa allah berfirman ; ” keluarkanlah (uangmu) wahai Bani Adam, maka akan Kuberikan milik (kemurahan)Ku
Islam memperhatikan kebutuhan pengeluaran demi dinamisnya ekonomi. Selain itu Nabi Muhammad SAW juga menyarankan agar orang memberikan miliknya yang paling disukainya dan pemberian ini tidak boleh diminta kembali. Rasullah SAW bersabda : ”Kami tidak menyukai perbuatan buruk ; (yaitu) seseorang yang meminta kembali pemberian bagai anjing yang memakan muntahnya”
Islam bahkan menghargai orang yang memberikan pinjaman kepada sesamanya dan kemudian mengubah status pinjaman itu sebagai shadaqah bila ia meminjamkan uangnya dua kali. Rasulullah SAW bersabda :
” Tak ada seorang muslim yang memberikan pinjaman dua kali kepada saudaranya melainkan Allah akan menilainya sebagai pemurah (sedekah)
Ini berarti bahwa ekonomi Islam akan memberikan bentuk dan ruang yang sangat berbeda dengan apa yang kita temukan di negara-negara kapitalis. Karena kaum Kapitalis sangat memuja konsumsi, masyarakatnya terbentuk menjadi tamak dan individualis dimana hanya sedikit kepedulian kepada orang lain dan bahkan bersiasat untuk menuai untung dari penderitaan orang lain. Buah dari nilai-nilai semacam ini membentuk badan regulator dan undang-undang sebagai strategi kontra. Pada kenyataannya pemerintah hanya memuat peraturan yang mengatur masalah yang dipicu oleh keyakinan Kapitalis. Sementara Islam menekankan pengeluaran dan negara tidak perlu memaksakan ini karena ini telah menjadi bagian dari mentalitas umat Islam yang hidup di bawah payung kendali sistem ekonomi islam. Pengaruh dari mentalitas seseorang dapat dapat dijumpai di Barat ini berarti bahwa tidak ada kebijakan yang dapat mengatasi sifat macam ini selain datang dari hati nuraninya sendiri.
Semua itu menunjukkan bahwa sistem Islam memiliki checks and balances yang memastikan kekayaan terdistribusikan ke dalam sistem ekonomi dan tidak terakumulasi pada tangan golongan kaya seperti yang kita saksikan dalam sistem pasar bebas. Ekonomi Islam merepresentasikan sebuah model pendorong yang memastikan distribusi kekayaan terus berjalan sehingga menghasilkan efek berlipat ganda seiring dengan bertambahnya kesempatan investasi. Karena sistem ekonomi Islam diturunkan dari ajaran agama Islam, maka menjalankannya adalah bagian dari ibadah sehingga memastikan korupsi, ketamakan dan individualisme tidak merasuk ke dalam benak umat islam.
Di tengah kubangan krisis yang tak terduga, pembiayaan Islam mengalami kenaikan fenomenal dengan nilai secara global mencapai hampir satu triliun dolar AS. Ini memicu dilakukannya penelitian dan minat terhadap prinsip-prinsip Islam. Namun bukannya memandang ekonomi Islam sebagai alternatif global yang tersedia, beberapa lembaga justru melihat pembiayaan Islam sebagai ladang penghasilan baru. Perlu difahami pembiayaan Islam adalah awal dari penerimaan Islam namun kapitalisme memanfaatkan aspek-aspek Islam (sebagaimana memanfaatkan aspek sosialisme) dengan pandangan sebagai ladang menuai keuntungan.
Karena ekonomi Islam mengatur pola investasi terbuka dengan tidak adanya suku bunga, masyarakat tidak memiliki pilihan selain berinvestasi dalam bisnis yang islami –yakni perdagangan barang dan jasa. Dengan begitu, kekayaan seseorang akan terinvestasikan kembali pada kegiatan bisnis di dalam perekonomian yang akan digunakan untuk menggerakkan lahan atau tenaga kerja –menciptakan banyak lapangan kerja dalam dunia ekonomi. Situasi ini menciptakan iklim ekonomi yang dinamis yang memungkinkan terciptanya banyak lapangan kerja. Seiring dengan banyaknya lapangangan kerja yang tersedia, lebih banyak pula uang yang dikeluarkan atau diinvestasikan kembali dalam sistem ekonomi yang tentu saja kembali menciptakan lebih banyak lagi lapangan kerja.
Tidak adanya ekonomi finansial yang paralel , membuat orang hanya dapat berinvestasi dalam ekonomi riil dan ini dapat tercapai melalui dua hal :
1. Tidak adanya segala macam kebijakan yang membatasi sirkulasi kekayaan membuat konsumen memiliki lebih banyak harta untuk dikeluarkan, sehingga mendorong konsumsi nasional. kebutuhan barang dan jasa yang tinggi hinggi melampaui barang primer merupakan lahan bisnis yang besar
2. Walaupun Islam mengatur bahwa properti publik diatur oleh negara, dimana ada jenis benda tertentu yang statusnya milik negara, negara dapat meminta jasa perusahaan swasta untuk menggarap berbagai proyek guna memenuhi rantai suplai benda apapun. Ini tentu saja merupakan lahan bisnis yang baik bagi para pengusaha. Pengelolaan sumberdaya utama tetap berada di tangan pemerintah tetapi perluasannya, pengembangannya, pencariannya sera pembangunannya dapat dilaksanakan oleh perusahaan yang dibayar pemerintah berdasarkan kontrak tertentu. Ini digolongkan sebagai ijarah (penyewaan tenaga kerja)
Dalam ekonomi Islam setiap individu berhak memenuhi permintaan pada sistem ekonomi. Untuk kepentingan ini Islam telah memiliki aturan yang jelas mengatur bagaimana bentuk dari sebuah perusahaan. Perusahaan (syarikat) pada dasarnya merupakan kontrak kerjasama beberapa orang dan cara mereka menerima kompensasi atau bayaran adalah dengan membagi laba diantara mereka.
Pada dasarnya sebuah perusahaan adalah urusan kontrak dan Islam telah memiliki aturan rinci kontrak tersebut. Kontrak Islami mencakup tawaran dan penerimaan diantara para pihak yang terlibat tentang sesuatu. Misalnya tentang apa yang akan mereka jual. Karena itu, formasi sebuah perusahaan selalu terdiri atas dua pihak atau lebih. Bentuk pekerjaan yang akan mereka lakukan menjadi subyek dalam kontrak karena ini adalah alasan mengapa mereka bekerjasama. sekurangnya salah seorang dari mereka harus mampu bertindak mengatur pengeluaran atas nama perusahaan. Misalnya melakukan pembelian, mengurangi aset dan sebagainya. Karena itu perusahaan Islami terdiri atas beberapa jenis sebagai berikut :
1. Al Inan (Perusahaan Setara)
2. Al abdan (Perusahaan sesama)
3. Mudharabah (Perusahaan Modal dan Kemampuan)
4. Wujuh (perusahaan reputasi)
5. Mufawadhah (Perusahaan negosiasi)
Kapitalisme menekankan pada konsumsi barang sementara Islam menekankan pada pengeluaran untuk usaha. Imam Nawawi meriwayatkan dalam kumpulan hadist qudsinya bahwa allah berfirman ; ” keluarkanlah (uangmu) wahai Bani Adam, maka akan Kuberikan milik (kemurahan)Ku
Islam memperhatikan kebutuhan pengeluaran demi dinamisnya ekonomi. Selain itu Nabi Muhammad SAW juga menyarankan agar orang memberikan miliknya yang paling disukainya dan pemberian ini tidak boleh diminta kembali. Rasullah SAW bersabda : ”Kami tidak menyukai perbuatan buruk ; (yaitu) seseorang yang meminta kembali pemberian bagai anjing yang memakan muntahnya”
Islam bahkan menghargai orang yang memberikan pinjaman kepada sesamanya dan kemudian mengubah status pinjaman itu sebagai shadaqah bila ia meminjamkan uangnya dua kali. Rasulullah SAW bersabda :
” Tak ada seorang muslim yang memberikan pinjaman dua kali kepada saudaranya melainkan Allah akan menilainya sebagai pemurah (sedekah)
Ini berarti bahwa ekonomi Islam akan memberikan bentuk dan ruang yang sangat berbeda dengan apa yang kita temukan di negara-negara kapitalis. Karena kaum Kapitalis sangat memuja konsumsi, masyarakatnya terbentuk menjadi tamak dan individualis dimana hanya sedikit kepedulian kepada orang lain dan bahkan bersiasat untuk menuai untung dari penderitaan orang lain. Buah dari nilai-nilai semacam ini membentuk badan regulator dan undang-undang sebagai strategi kontra. Pada kenyataannya pemerintah hanya memuat peraturan yang mengatur masalah yang dipicu oleh keyakinan Kapitalis. Sementara Islam menekankan pengeluaran dan negara tidak perlu memaksakan ini karena ini telah menjadi bagian dari mentalitas umat Islam yang hidup di bawah payung kendali sistem ekonomi islam. Pengaruh dari mentalitas seseorang dapat dapat dijumpai di Barat ini berarti bahwa tidak ada kebijakan yang dapat mengatasi sifat macam ini selain datang dari hati nuraninya sendiri.
Semua itu menunjukkan bahwa sistem Islam memiliki checks and balances yang memastikan kekayaan terdistribusikan ke dalam sistem ekonomi dan tidak terakumulasi pada tangan golongan kaya seperti yang kita saksikan dalam sistem pasar bebas. Ekonomi Islam merepresentasikan sebuah model pendorong yang memastikan distribusi kekayaan terus berjalan sehingga menghasilkan efek berlipat ganda seiring dengan bertambahnya kesempatan investasi. Karena sistem ekonomi Islam diturunkan dari ajaran agama Islam, maka menjalankannya adalah bagian dari ibadah sehingga memastikan korupsi, ketamakan dan individualisme tidak merasuk ke dalam benak umat islam.
Di tengah kubangan krisis yang tak terduga, pembiayaan Islam mengalami kenaikan fenomenal dengan nilai secara global mencapai hampir satu triliun dolar AS. Ini memicu dilakukannya penelitian dan minat terhadap prinsip-prinsip Islam. Namun bukannya memandang ekonomi Islam sebagai alternatif global yang tersedia, beberapa lembaga justru melihat pembiayaan Islam sebagai ladang penghasilan baru. Perlu difahami pembiayaan Islam adalah awal dari penerimaan Islam namun kapitalisme memanfaatkan aspek-aspek Islam (sebagaimana memanfaatkan aspek sosialisme) dengan pandangan sebagai ladang menuai keuntungan.
@FARIZIPAYMENT
Komentar
Posting Komentar